Langsung ke konten utama

All About Graphic Design

Fernayou Blog - Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya); karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa. Seni memiliki banyak bentuk, salah satunya adalah gambar atau visual. Gambar atau visual ini tidak jauh dari yang namanya desain. Seorang desainer gambar pada zaman ini telah banyak dikenal sebagai desainer grafis. Namun, semenarik apakah desain grafis saat ini? Seberapa pentingkah pekerjaan itu? Untuk itu, silahkan membaca artikel berikut ini.

Introducing to Graphic Design

Sebelumnya, mari kita mengenal lebih dalam apa itu desain grafis. Desain grafis adalah media komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi dengan cara seefektif mungkin. Dalam hal ini, sebuah teks juga disebutkan sebagai gambar. Teks juga merupakah hasil abstraksi symbol-simbol yang dapat dibunyikan. Oleh karena itu, desain grafis kadang bukan hanya tentang gambar, melainkan kadang-kadang tipografi yang ada juga disebut sebagai desain grafis.

Biasanya, desain grafis digunakan untuk menyampaikan informasi yang berhubungan dengan bisnis. Itu mengapa desain grafis juga dikategorikan sebagai commercial art. Sebuah perusahaan tentu akan memasarkan dan mengiklankan produknya dengan sangat apik. Disinilah peran desainer grafis diperlukan. Salah satu tugas dari desainer grafis adalah menciptakan media komunikasi dari maksud dan tujuan produk tersebut dengan apik agar dapat menjaring audience. Semakin banyak audience yang dapat dijaring, semakin banyak keuntungan yang didapat oleh perusahaan tersebut.

Setiap hari, kita pasti telah melihat dan menikmati berbagai karya dari para desainer grafis. Mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur. Mulai dari desain sprei, UI smartphone, desain laptop, baliho, buku, berbagai logo, dan sebagainya. Setiap keindahan desain-desain tersebut dapat menjadi pencuci mata kita. Namun tidak banyak juga yang mendesain produk dan sebagainya yang –istilahnya- tidak ikhlas dalam desainnya. Mengapa? Karena desain tersebut terkesan seperti ala kadarnya tanpa estetika yang jelas.

Sudah lumayan jelas bukan apa itu desain grafis dan pekerjaan sederhana dari desainer grafis. Untuk penjelasan lebih lanjut, silahkan terus baca artikel ini.

The History of Graphic Design

Sejarah adanya desain grafis tidak dapat dilepaskan dari berbagai gambar yang digunakan untuk berkomunikasi. Gambar-gambar itu umum digunakan pada era prasejarah. Manusia prasejarah menggunakan gambar dalam berkomunikasi secara visual. Contoh gambar dari masyarakat prasejarah ini dapat dilihat di Gua Lascaux, Prancis Selatan yang dipercaya ada sejak zaman Paleo-Lithicum. Dalam gua tersebut terdapat berbagai gambar binatang dan manusia prasejarah. Gambar-gambar ini dipercaya digunakan sebagai komunikasi visual dan tujuan ritual. Dari cara mereka menggores, mengukur ukuran gambar, dan memilih media, mereka sudah mulai mendesain.
Berlanjut ke zaman Mesir. Bangsa Mesir sudah mulai menggunakan gambar sebagai sebuah tulisan. Mereka adalah salah satu bangsa pertama yang menggunakan tulisan dalam bentuk gambar. Tulisan dalam bentuk gambar ini lebih dikenal dengan Huruf Hieroglyphe. Mereka menggunakan gambar-gambar tersebut untuk memberikan informasi, peristiwa-peristiwa besar dalam zaman mereka, doa-doa, dan sebagainya.

Berlanjut ke bentuk aksara tulisan yang pertama kali digunakan oleh bangsa Punesia (±1000 tahun SM) yang saat itu menggunakan 22 bentuk huruf. Setelah itu, huruf-huruf itu disempurnakan oleh bangsa Yunani (±400 tahun SM) dengan mengubah bentuk 5 huruf menjadi huruf hidup. Hal ini berlanjut hingga kejayaan kerajaan Romawi yang menaklukan Yunani pada abad pertama. Hal ini membawa peradaban baru dengan diadaptasikannya sastra, seni, agama, serta alphabet latin yang dibawa dari Yunani. Pada awalnya alphabet yang ditetapkan Romawi berjumlah 21 huruf, yaitu A, B, C, D, E, F, G, H, I, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, V, dan X. Huruf Y dan Z ditambahkan untuk mengakomodasi kata yang berasal dari Bahasa Yunani. Tiga huruf tambahan, yaitu J, U, dan W dimasukkan pada abad pertengah. Hingga akhirnya total huruf yang dikenal adalah 26 bentuk huruf.

Maju sekitar 1000 tahun kemudian, yaitu awal millennium kedua, ketika perguruan tinggi pertama kali berdiri di Eropa. Buku merupakan sebuah tuntutan yang sangat tinggi. Namun saat itu, teknologi atau mesin cetak masih belum ditemukan. Itu mengapa untuk menyalin satu buku diperlukan waktu berbulan-bulan, karena proses penyalinan menggunakan tangan. Untuk mempercepat dan meningkatkan efisiensi pekerjaan penyalin (scribes), maka lahirlah jenis huruf Blackletter Script. Jenis huruf yang satu ini berupa huruf tipis-tebal dan ramping. Ketipis-tebalannya dapat mempercepat kerja penulisan. Selain itu, bentuk yang indah dan ramping dapat membuat huruf-huruf itu termuat lebih banyak di atas satu halaman buku.

Baru di tahun 1447, mesin cetak pertama ditemukan oleh Johannes Guterberg (1398-1468). Mesin cetak ini digerakkan dengan model tekanan menyerupai desain yang digunakan untuk menghasilkan anggur di Rhineland, Jerman. Ini dapat memungkinkan produksi buku secara massal. Hal ini memicu ledakan informasi pada masa kebangkitan kembali Eropa. Pada tahun 1450, Johannes Guterberg bekerjasama dengan pedagang dan pemodal bernama Johannes Fust, dan dibantu oleh Peter Schoffer untuk mencetak “Latin Bible” atau disebut “Guterberg Bible”, “Mararin Bible”, atau “42 Line Bible” yang diselesaikan pada tahun 1456 di Mainz, Jerman. Cetakan tersebut menggunakan jenis huruf Texture Blackletter. Temuan Guterberg ini memicu perkembangan seni ilustrasi di Jerman terutama untuk hiasan buku. Pada masa itu mulai banyak juga berkembang corak huruf (tipografi). Ilustrasi-ilustrasi pada zaman itu cenderung realis dan tidak banyak icon.

Berlanjut ke tahun 1700-an hingga 1800-an dimana Aloys Senefelder (1771-1834) menemukan teknik cetak Lithografi. Berbeda dengan teknik cetak Guterberg, teknik cetak Litorafi menggunakan teknik cetak datar yang memanfaatkan prinsip saling tolak antara minyak dan air. Teknik ini memungkikan pengambaran yang lebih luas dalam bentuk blok-blok besar serta pemisahan warna. Pada masa inilah seni poster mulai berkembang dengan pesat. Masa keemasan ini lebih dikenal dengan The Golden Age of The Poster.

The Grown of Indonesian’s Graphic Design

Perkembangan desain grafis di Indonesia dimulai dari zaman kolonialisme. Pada masa pendudukan Belanda tersebut, pemerintahnya pernah menunjuk beberapa seniman untuk melakukan studi landscape di Indonesia untuk merekam eksotisme di Indonesia dan menuangkannya dalam bentuk karya gambar lukisan yang berkesan romantic dengan teknik wood engraving dan lithografi. Berangkat dari sinilah desain grafis mulai diperkenalkan secara tidak langsung kepada rakyat Indonesia. Penguasaan teknik ini pun tidak dipelajari secara khusus di akademik, melainkan secara otodidak di obrolan dan interaksi dengan orang asing.
Mesin cetak pertama kali dibawa oleh para misionaris ke Pulau Jawa pada tahun 1659. Namun karena tidak ada operatornya, masin itu menganggur sampai berpuluh-puluh tahun. Tujuannya berkaitan dengan niat mereka untuk mencetak kitab suci dan menerbitkan surat kabar berhaluan pendidikan Kristen.

Pada tahun 1977, Gert Dumbar, seorang desainer grafis Belanda memperkenalkan istilah semiotika dan komunikasi visual di FSRD ITB. Menurutnya desain grafis tidak hanya menangani desain untuk percetakan tetapi juga moving image, display, dan pameran. Sejak tahun 1979, istilah Desain Komunikasi Visual (DKV) mulai dipakai untuk menggantikan istilah desain grafis.

Akhir 1970 dan seterusnya, mulailah tumbuh perusahaan-perusahaan desain grafis yang sepenuhnya dipimpin oleh desainer grafis. Berbeda dengan biro iklan, perusaha-perusahaan ini mengkhususkan diri untuk desain non-iklan. Perusahaan-perusahaan seperti Vision, Grapik Grapos Indonesia, Citra Indonesia, dan GUA Graphic yang berkembang pada masa ini. Selain itu, di Bandung juga sudah ada Design Center Decenta yang didirikan tahun 1973 yang menangani seni grafis, sampul buku, kartu ucapan, logo, kalender, pameran, dan elemen estetis gedung. Setelah itu, pada tahun 1980 terdapat perkembangan jumlah perusahaan desain grafis yang cukup signifikat di Jakarta, seperti Gugus Grafis, Polygon, dan Adwitya Alembana; dan di Bandung ada Zee Studio, MD Grafik, Studio “OK!”, dll.

Ilustrasi menggunakan teknik air brush dengan gaya hyper-realism dan Pop Art menjadi trend pada waktu itu, dengan majalah Tempo dan Zaman yang mengakomodasi teknik ini untuk sampulnya. Salah satu desainer yang mempopulerkan aliran Pop Art dengan teknik air brush ini adalah Tony Tantra. Ia menggunakan kaos dengan label “Tony Illustration” yang dijualnya di Bakungsari, Kuta pada akhir 1980-an. Ia sebelumnya bersama Harrus Purnama dan Gendut Riyanto dulunya pengisi rubric Pop Art di majalah Aktuil.

Menjelang akhir tahun 1990-an, konsepsi baru seni global yang diberi tajuk postmodernisme yang terus digalakkan hingga sekarang ini membawa arus perubahan yang kritis dan radikal pada seni rupa Indonesia, tidak terkecuali dengan dunia desain grafis Indonesia. Penyampaian ide yang dimiliki senniman pada karya dituangkan pada berbagai media dan material yang dianggap tidak lazim, seperti halnya performance art, instalasi, dan media lainnya yang unik. Seniman grafis tetap mencoba memadukan teknik grafis dengan media asing yang dinamai instalasi; beberapa lainnya tetap menyisipkan corak seni grafis dalam pembentukan karyanya pada derasnya arus postmodernisme.

Lebih jauh lagi, eksplorasi seni grafis semakin berkembang pesat mengikuti perkembangan teknologi yang memunculkan berbagai media cetak. Banyak pihak yang tetap berpegang pada seni grafis konvensional karena dianggap lebih bernilai dibandingkan dengan karya yang diciptakan melalui media cetak. Hal ini dikarenakan mudahnya mereproduksi karya tersebut yang berakibat memberi jarak semakin jauh antara seniman dengan karyanya sendiri. Namun kalangan postmodernisme beranggapan bahwa penciptaan karya seni lebih kepada sejauh apa seniman dapat mempertanggung jawabkan penuangan ide karyanya sendiri.

Dapat sedikit disimpulkan bahwa seni grafis Indonesia bukanlah seni pinggiran atau seni ‘isapan jempol’ belaka. Seni ini dapat dipandang sebagai seni yang dapat menciptakan seniman yang memiliki kekhasan dalam karya maupun pikirannya. Selain itu dapat juga menunjukkan eksistensi kekayaan seni rupa Indonesia.

A Few Indonesian’s Graphic Designer with His/her Works

Setelah berbicara tentang perkembangan desain grafis di Indonesia, maka kita tidak dapat lepas dari beberapa desainer grafis Indonesia yang sudah mendunia sekarang ini. Berikut ini adalah beberapa desainer grafis yang telah mendunia.

1.     Rahadil Hermana

Hermana atau Bodil, begitulah ia akrab dipanggil adalah seorang desainer grafis Indonesia yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Kekhasan gaya desainnya adalah detail dan banyak memainkan teknik pointilisme (titik-titik). Karya-karya desain yang ia ciptakan banyak digunakan oleh kelompok-kelompok music dan merek-merek pakaian diberbagai negara berkat pengaruh punk rock.

Ia mengatakan bahwa tradisi dan budaya Indonesia yang kaya itulah yang memunculkan inspirasi dalam karya-karya yang ia ciptakan. Tradisi dan budaya yang unik itulah yang menjadi aspek terbaik dari hasil kreasi yang ia ciptakan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Barong, sebuah karya yang terinspirasi dari karakter mitologi dari budaya Bali.

Bodil juga mengungkapkan bahwa karyanya banyak terinspirasi dari berbagai kultural selain musk punk rock yang sering ia dengarkan. Oleh sebab itu, bukan tidak mungkin karyanya dapat menjadi karya hasil pencampuran berbagai budaya dari seluruh dunia.

2.     Bayu “Bayo Gale” Santoso

Bayu Santoso, atau yang lebih dikenal sebagai Bayo Gale merupakan salah satu desainer grafis Indonesia yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Ketika ia masih berumur 19 tahun dan masih menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, ia berhasil memenangkan kontes bergengsi mendesain album “V” milik band internasional, Maroon 5. Ia menggunakan wajah harimau sebagai dasar dan memilki motif huruf “V” yang sangat jelas terlihat di wajahnya. Konsepnya menggunakan unsur barat dan ornament nusantara, yaitu motif ukiran hayati tradisional.

3.     Henricus Kusbiantoro

Merupakan lulusan ITB yang merupakan salah satu desainer grafis top Indonesia. Henri terkait erat dengan salah satu perusahaan pionir terkemuka sebagai konsultan merek dan logo yang berpusat di San Fransisco, America Serikat, yaitu Landor dan menjadi salah satu art director di sana. Pernah bersekolah di Pratt Institute, Brooklyn, New York dan lulus pada tahun 2000 dengan predikat highest achievement. Bahkan saat masih bersekolah, ia sempat bekerja di Pushpin Studio yang didirikan oleh Seymor Chwast, desainer grafis legendaris AS. Henri merupakan perancang logo I Love New York, Milton Glaser. Setelah lepas dari Pushpin Studio, ia melanjutkan bekerja di Chermayeff & Geismar. Ia merancang logo Emmy Award, Japan Airlanes, Guggenheim Foundation, dan Food Network Channel. Ia pernah mendapat PHK, namun sebulan kemudia, ia kembali diterima di Wolff Olins setelah di telepon oleh Direktur Kreatif Douglas Sellers yang sedang membuka kantor di New York. Ia bergabung menjadi desainer untuk proyek revitalisasi General Electric (GE).

4.     Rini Sugianto

Sebelumnya tidak pernah berpikiran menjadi desainer grafis, namun pada tahun 2001 ia melakukan perjalanan ke AS dan belajar animasi dan visual efek di Academy of Art University. Setelah lulus, ia sempat intern di Stormfront Studio, Offset Software, dan Blur Studio. Setelah itu Rini bekerja di WETA Digital, perusahaan efek visual yang berbasis di Wellington, Selandia Baru. Ia pernah menggarap film The Adventure of Tintin: The Secret of Unicorn, The Avengers, The Hobbit of Smaug, dan menggarap proyek film Teenage Mutant Ninja Turtle (TMNT) saat ia bekerja di Industrial Light & Magic di San Fransisco.

5.     Andre Surya


Lahir di Jakarta, 1 Oktober 1984, dan merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Tarumanegara. Ia merupakan salah satu digital artist asal Indonesia di Industrial Light & Magic (ILM) Lucasfilm yang didirikan oleh George Lucas pada tahun 1971. Merupakan pemenang Future World Contest dengan karyanya City of Enhasa. Ia pernah menggarap beberapa film, seperti Ironman, Ironman 2, Star Trek, Terminator Salvation, Indiana Jones and The Kindom of Crystal Skull, Surrogates, dan Transformers II: Revenge of The Fallen. Ia saat ini telah mendirikan sekolah animasi bernama Enspire School of Digital Art yang berlokasi di Jakarta Barat.

Graphic Designer Jobs and the Salary

Banyak hal yang desainer grafis lakukan. Namun, intinya mereka memberikan solusi dari beberapa masalah yang klien mereka dapatkan. Mereka akan mencoba memberikan solusi dala bentuk desain visual komunikasi pada klien mereka masing-masing. Secara spesifik, yang mereka kerjakan adalah mendesain komunikasi visual, biasanya iklan dan sebagainya jika di suatu perusahaan, dan membuat komunikasi visual yang ia ciptakan benar-benar dapat menjaring user atau pengguna baru.

Terdengar sederhana, namun biasanya pekerjaan yang mereka lakukan tidak sesederhana itu. Logo, tulisan, ilustrasi, maupun website yang mereka desain haruslah sesuai dengan kebutuhan klein. Oleh sebab itu, pengetahuan yang luas, kreativitas, dan skill untuk menuangkan ide itulah yang sangat dibutuhkan oleh seorang desainer grafis. Semakin desain yang ia ciptakan memberitahu makna dari ide seorang desainer tersebut, semakin professional dan kreatif lah desainer grafis itu.

Gaji yang didapatkan oleh desainer grafis di Indonesia terbilang lumayan besar. Untuk pekerjaan yang mendesain suatu logo atau website, maka  gaji yang diberikan dapat dikatakan pas. Menurut website Glassdoor.com , gaji yang diberikan pada seorang desainer grafis berkisar antara Rp2,900,000 – Rp8,270,000 tergantung dari perusahaan tempat bekerja.

Selain itu, menurut PayScale.com, gaji yang didapatkan seorang desainer grafis di Indonesia berkisar Rp35,581,004 – Rp202,734,850 dengan bonus hingga Rp15,000,000. Maka dari itu, median gaji yang didapat seorang desainer grafis di Indonesia dapat mencapai Rp60,766,692 pertahun. Hal ini juga bergantung pada skill yang dimiliki, misalnya dapat menggunakan Adobe Photoshop atau Illustrator dengan baik, maka gaji yang didapat bisa menjadi lebih banyak. Angka yang lumayan tinggi bukan?

Become a Graphic Designer

Setelah mengetahui beberapa hal tentang desain grafis dan pekerjaannya, saatnya kita sampai pada bagian terakhir. Bagian ini mengkhususkan untuk sobat FB yang ingin menjadi desainer grafis. Beberapa tips yang dapat digunakan untuk menjadi seorang desainer grafis, salah satu pekerjaan yang sangat unik dan terlihat menyenangkan. Nah, berikut ini adalah beberapa tips untuk dilakukan saat ingin menjadi desainer grafis atau memulai pekerjaan sebagai desainer grafis.

Tips yang pertama adalah dapat beradaptasi. Desainer grafis professional ada untuk memecahkan masalah dan pemberi solusi dalam bentuk desain. Desainer grafis harus dapat memberikan solusi yang tetap bagi seorang klien yang meminta bantuan desainer grafis tadi. Karena itu, pengetahuan yang luas tentang seni desain grafis sangat diperlukan. Hal ini terjadi tidak lain karena kebutuhan klien yang berbeda-beda setiap orangnya. Hal ini juga yang membuat pekerjaan desain grafis menjadi sedikit berat. Maka dari itu, belajarlah tentang berbagai ilmu desain grafis  untuk dapat menjadi bunglon yang baik bagi klien.

Tips kedua, memiliki dan terus mengasah skill dan menemukan style sendiri. Walaupun sebelumnya saya mengatakan bahwa desainer grafis harus dapat beradaptasi sesuai keinginan klien, namun disini kita juga harus tetap memberikan style sendiri yang dimiliki. Namun jangan terlalu fanatic pada style tersebut. Anggap saja style tersebut dapat menjadi pemanis dari karya desain yang telah diciptakan. Selain itu, skill juga menjadi hal nomor satu yang harus dimiliki seorang desainer grafis. Skill untuk mengoperasikan sebuah atau beberapa software grafis, seperti software-software dari Adobe, Corel, dan sebagainya. Namun skill yang baik tidak akan cukup bagus tanpa kreativitas. Jadi, kreativitas harus dimiliki dan ditambahkan pada kemampuan atau skill untuk menerjemahkan ide atau pikiran tadi pada bentuk seni grafis. Kesatuan yang sempurna dan sangat indah!

Tips ketiga adalah bergabung dengan komunitas sehobi, dalam hal ini adalah desainer grafis. Bergabung dengan komunitas yang memiliki hobi yang sama akan membuat kita semakin dapat mengembangkan kemampuan dalam hobi kita. Misalnya yang sekarang ini adalah desainer grafis. Jika kita dapat bergabung dengan komunitas desain grafis di online ataupun offline, kita dapat saling bertukar informasi, memberikan ide, mendiskusikan karya dan sebagainya di komunitas ini. Itu adalah hal yang benar-benar berguna untuk mengembangkan kemampuan desain apalagi untuk yang baru belajar. Namun akan lebih baik lagi jika Anda tidak hanya mengikuti satu komunitas saja, ikutilah juga komunitas lain, bahkan yang tidak berhubungan dengan desain juga tidak apa-apa. Pertukaran pikiran di komunitas itu dapat menumbuhkan ide atau kreativitas baru yang dapat membuat style sendiri yang semakin unik dan tidak terlihat monoton.

Tips keempat; cari, simpan, dan pelajari berbagai sumber kreativitas. Banyak hal yang dapat Anda gunakan untuk mencairkan ide yang ada di otak Anda. Salah satunya adalah mencari sumber ide. Sumber ide dapat ditemukan di mana saja, mulai dari buku, majalah, gambar, internet, hingga forum atau komunitas yang Anda ikuti. Semakin banyak sumber ide yang Anda miliki, semakin mudah juga kreativitas tumbuh pada diri Anda, semakin mudah juga Anda menemukan ide-ide brilian baru yang dapat menjadi sangat unik. Selamat mencari ide!

Tips kelima, tetap belajar. Ya, kadang-kadang saat seseorang yang telah menganggap dirinya sebagai professional tidak ingin belajar lagi. Ia berpikir bahwa kakinya telah menginjak tempat di atas langit. Padahal, seorang professional sejati tidak pernah bosan untuk belajar. Ia akan terus mencari dan mencari berbagai hal baru yang tidak ia ketahui, bahkan dari ‘junior’ yang baru mengenal dunia grafis. Untuk pembelajar baru, dapat menemukan berbagai tutorial untuk belajar desain grafis yang dapat diakses dengan sangat mudah untuk menambah pengetahuan tentang desain-desain yang up to date hingga hari ini.


Tips keenam dan tips terakhir, jangan menjadi kacang lupa kulitnya, tetap berdoa, dan jagalah kesehatan. Tips terakhir ini adalah salah satu tips yang benar-benar harus dilakukan. Banyak orang yang telah berhasil terbang kadang lupa akan kulitnya sendiri. Oleh karena itu, janganlah menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Tetaplah mau untuk mengajari orang-orang yang baru mengenal desain grafis, siapa tahu dari pengajaran yang dilakukan, Anda mendapatkan informasi yang ternyata dulu pernah terlewat dan tidak Anda ketahui. Selain itu, semua perbuatan tidak akan berhasil tanpa campur tangan Tuhan. Itu mengapa, Anda harus tetap berdoa dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan skill dalam mendesain suatu grafis. Terakhir, jagalah kesehatan. Sederhana, jika Anda tidak menjaga kesehatan, maka siapa yang akan membuat desain atas nama Anda? Tidak ada! Maka itu, teruslah jaga kesehatan saat mencoba menyelesaikan suatu proyek desain agar karya yang Anda ciptakan menjadi karya yang ‘sempurna’ tanpa banyak kesalahan.

Closing

Demikian artikel yang berjudul “All About Graphic Design.” Artikel ini saya coba bagikan untuk menambah pengetahuan umum tentang desain, dan dalam hal ini desain grafis. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena perkembangan industry kreatif Indonesia mengalami kenaikan yang signifikat. Akan menjadi hal yang benar-benar keren jika akhirnya ada idustri film yang menggunakan desain grafis atau special efek yang menjadi sangat besar dan sekelas dunia yang berasal dari Indonesia yang dimulai dari seorang desainer grafis Indonesia yang menyampaikan idenya. Majulah dunia desain Indonesia, majulah Indonesia.

BONUS: INFOGRAFIS 








Komentar

Postingan populer dari blog ini