Langsung ke konten utama

HUT Kabupaten Lombok Tengah ke-70: Sejarah Terbentuknya Kabupaten Lombok Tengah

Fernayou Blog - Hari ini adalah hari jadi Kabupaten Lombok Tengah yang ke-70, dimana Kabupaten Lombok Tengah merupakan tempat tinggal ketiga admin Fernayou Blog (2015).

Kabupaten Lombok Tengah adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ibu kota daerah ini ialah Praya. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.208,39 km² dengan populasi sebanyak 860.209 jiwa.

Kabupaten Lombok Tengah terletak pada posisi 82° 7' - 8° 30' Lintang Selatan dan 116° 10' - 116° 30' Bujur Timur, membujur mulai dari kaki Gunung Rinjani di sebelah Utara hingga ke pesisir pantai Kuta di sebelah Selatan dengan beberapa pulau kecil yang ada disekitarnya.

Lalu, bagaimana sejarahnya Kabupaten Lombok Tengah terbentuk?
Kabupaten Lombok Tengah terbentuk menjadi Daerah Otonom berdasarkan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Undang-undang tersebut disahkan pada Tanggal 14 Agustus 1958. Namun demikian, sebelum terbentuk sebagai sebuah wilayah pemerintahan, intentitas Lombok Tengah telah ada jauh sebelum itu. Beberapa momentum historis yang menandai keberadaan Lombok Tengah, antara lain adalah dengan dikeluarkannya Stb Nomor 248 Tahun 1898, kemudian pasca proklamasi, Lombok Tengah secara integral menjadi bagian dari NKRI ditandai dengan pelantikan secara formal Kepala Pemerintahan Setempat Lombok Tengah yang pertama, pada Tanggal 15 Oktober 1945. Momentum ini menjadi  leverage factor yang memicu
tumbuhnya semangat integrasi, patriotisme dan nasionalisme di Kabupaten Lombok Tengah.
Enam momentum yang diklasifikasi menjadi dua katagori masa kejadian peristiwa penting perjalanan Kabupaten Lombok Tengah, yakni pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Momentum peristiwa sebelum kemerdekaan, meliputi :

  • Peristiwa 7 Agustus 1891. Pada saat inilah mulai dikobarkannya apa yang disebut dengan Congah Praya kemudian berlanjut pada 28 September 1898 menjadi Perang Lombok yang berakhir dengan runtuhnya dinasti Kerajaan Karang Asem di Lombok;
  • Peristiwa 18 Agustus 1898. Berlangsung pertemuan para tokoh masyarakat Sasak untuk menentukan batas wilayah desa dan kampung, baik di onder afdeeling (dibawah divisi) Lombok Barat maupun di onder afdeeling Lombok Timur. Pada waktu itu Lombok Tengah masih berada di onder afdeeling Lombok Timur;
  • Peristiwa 27 Agustus 1898. Onder afdeeling Lombok Timur dimekarkan menjadi onder afdeeling Lombok Timur dan onder afdeeling Lombok Tengah, sesuai statblad Nomor 248 Tahun 1898 kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Gubernur General Nomor 19 Tanggal 27 Agustus 1898. Sejak saat itulah dikenal istilah Lombok Tengah dengan batas-batas wilayah seperti sekarang.


Momentum peristiwa setelah kemerdekaan Republik Indonesia, meliputi:

  • Peristiwa 22 September 1945. Presiden RI, Ir. Soekarno, melantik I Gusti Ketut Pudja menjadi Gubernur Provinsi Sunda Kecil, dimana Lombok yang masih diduduki Jepang merupakan bagian dari Wilayah Provinsi Sunda Kecil;
  • Peristiwa 15 Oktober 1945. Dilakukan over alih kekuasaan dari Jepang kepada Bangsa Indonesia di Gedung Mardi Bekso Mataram. Peristiwa ini menandai masuknya Lombok ke Wilayah Hukum Pemerintahan Republik Indonesia. Sejak saat itu, Bendera Merah Putih mulai dikibarkan di Lombok, disusul dengan penetapan orang-orang yang memegang jabatan pemerintahan, dintaranya R. Noene Noeraksa menjadi Kepala Daerah Lombok, I Gusti Ngurah menjadi Kepala Daerah Setempat - Lombok Barat, Lalu Srinata menjadi Kepala Daerah Setempat - Lombok Tengah dan Mamiq Fadelah menjadi Kepala Daerah Setempat - Lombok Timur;
  • Peristiwa 17 Desember 1958. Hari Jadi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 dan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah tingkat II dalam Wilayah Daerah Tingkat I Bali, NTB dan NTT Tanggal 14 Agustus 1958.

Keenam alternatif momentum tersebut, kemudian mengerucut menjadi dua. Satu alternatif momentum sebelum kemerdekaan, yakni peristiwa 27 Agustus 1898. Sedangkan alternatif momentum sesudah kemerdekaan, yang dipilih adalah peristiwa 15 Oktober 1945. Ketika memilih salah satu dari dua alternatif momentum ini ternyata tidak mudah. Buktinya, selama tiga hari dan tiga malam seminar berjalan, belum juga menghasilkan keputusan. Forum seminar kemudian membentuk Tim Perumus untuk melakukan kajian lebih mendalam terhadap kedua alternatif momentum tersebut. Setelah melalui perdebatan diantara Tim Perumus dipilih peristiwa 15 Oktober 1945 sebagai Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah. Dipilihnya momentum 15 Oktober 1945 sesuai dengan krIteria yang telah disepakati, sebagaimana dinyatakan dalam Berita Acara Tim Perumus Seminar Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah, yakni :

  • Hari jadi yang ingin ditetapkan adalah Hari Jadi Lombok Tengah sebagai satu kesatuan masyarakat hukum;
  • Dasar penentuan alternatif momentum hendaknya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dengan memperhatikan hal-hal berikut:


  1. Memperkokoh persatuan dan kesatuan serta meningkatkan rasa kebersamaan serta mampu menggali nilai-nilai perjuangan sebagai spirit dalam menghadapi masa depan;
  2. Memiliki nilai legalitas dan landasan yuridis formal, serta didukung dengan kajian ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademis; dan
  3. Mendapat pengakuan secara luas dari masyarakat.
Selain telah memenuhi kriteria tersebut, dipilihnya tanggal 15 Oktober 1945 juga dilandasi oleh beberapa pertimbangan, diantaranya :
Pertama, pengangkatan Lalu Srinata selaku Kepala Pemerintahan Lombok Tengah oleh Gubernur Provinsi Sunda Kecil, Mr. I Gusti Ketut Pudja, telah melegitimasi keberadaan Pemerintahan Lombok Tengah secara hukum; Kedua, pada tanggal 15 Oktober 1945 Komite Nasional Daerah Lombok (semacam DPRD) mengadakan rapat umum di Alun-alun Mataram. Pada momentum itulah untuk
pertama kali dikibarkan Bendera Merah Putih dan dibacanya Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 di Bumi Sasak Lombok. Peristiwa ini tentu amat membanggakan dan menjadi spirit bagi masyarakat Lombok untuk membangun daerahnya menjadi lebih maju ke depan.

Hari Lahir Terilhami Ditengah LautHari Lahir Kabupaten Lombok Tengah merupakan tonggak bersejarah jadi diri kabupaten Lombok Tengah. Proses penentuan hari jadi kabupaten Lombok Tengah terilhami di tengah laut selat Sumbawa-Lombok. Diawali dari undangan Bupati Kabupaten Sumbawa kepada Bupati Lombok Tengah H.L.Wiratmaja untuk menghadiri perayaan HUT Kabupaten Sumbawa. Sepulang menghadiri undangan, Diatas Kapal Laut Bupati H.L.Wiratmaja memanggil pengurus DPD KNPI Kabupaten Lombok Tengah diantaranya Ketua L.M.Saleh, Sekretaris L.Amrillah dan Koordinator Wilayah Lombok Tengah KNPI NTB Ihsan S.Hut. Di sebuah Meja Bundar Bupati merasa risih karena hanya menjadi yang diundang untuk kegiatan HUT di masing masing kabupaten/kota, sementara Lombok Tengah yang belum pernah mengundang untuk kegatan yang sama. Untuk itulah Bupati memerintahkan kepada Ketua DPD KNPI L.M.Saleh S.Sos dan Sekretaris L. Amrillah S.sos untuk mengelar seminar Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah begitu tiba di Lombok Tengah. “Saya disindir Pak Bupati Sumbawa, Lombok Tengah kok hanya diundang, kapan gilirannya mengundang, karena itu begitu didarat, segera lakukan Seminar hari jadi Kabupaten Lombok Tengah”. Itulah permintaan yang disampaikan Bupati Lombok Tengah waktu itu. Permintaan Bupati kepada KNPI untuk melakukan seminar itu ditindak lanjuti melalui surat yang dikirimkan ke KNPI Kabupaten Lombok Tengah. Berbekal permintaan secara lisan dan tulisan dari Bupati, maka jajaran pengurus DPD KNPI Lombok Tengah langsung menggelar rapat persiapan di Kantor DPD KNPI jalan Jendral Sudirman Praya. Akhirnya melalui serangkaian rapat persiapan hingga rapat pemantapan, ditetapkan pelaksanaan Seminar Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah dilaksanakan pada hari Sabtu- minggu tanggal 20-21 Juni 2009 di Aula Kantor Departemen Agama (sekarang Kantor kementrian Agaman) Kabupaten Lombok Tengah dengan peserta terdiri dari tokoh mayarakat, budayawan, sejarawan, tokoh agama, tokoh pemuda, politisi, akademisi dan tokoh perempuan dimasing masing kecamatan dengan delegasi 5 - 7 orang perkecamatan yang mendapat mandat dari masing masing masing Camat. Sementara pembicaranya adalah para-pakar ahli diantaranya pakar hukum tata negara Prof. DR Galang Asmara (Persefektif Sosiologis Dalam Mendorong Partisipasi Pembangunan), Drs.H.L.Danial. MTP (Hari jadi Kabupaten Lombok
Tengah dalam tinjauan Sejarah Pemerintahan), Ir. H.L.M.Amin. MM (Hari jadi Lombok Tengah dalam tinjauan Budaya), Drs H.L.Puri, MM ( Hari Jadi Lombok Tengah dalam tinjauan Administratif dan Politis, Drs.H.M.Ikrom (Konsep ekonomi kerakyatan sebagai strategi pertahanan dan pemberdayaan ekonomi Lombok Tengah), dan Moh. Yamin (Persfektif Kebudayaan sebagai spirit
bagi mekanisme pranata sosial). Sementara Pembanding diantaranya DR. Agusdin (akademisi), Drs. L. Padlan Prayanegara MM (politisi), L.Mashudi SH (Pengusaha), Ir. Catur Kukuh (Tokoh LSM), Drs. L. Hajar Asmara MT (Ahli Perencanaan), Drs. Karim Abdurahim (Legislatif), TGH. Syamsul Hadi LC (Tokoh Agama/tokoh pendidikan), L. Ahmad JD (budayawan/sejarawan), Hj. Lale
Widare SH (tokoh perempuan) dan Khairil Anwar SH (tokoh pemuda/KNPI). Dan tokoh penting yang hadir pada seminar itu adalah Prof DR Anak Agung Putra Agung, Msi, MA (Salah satu cicit dari Raja Anak Agung Bali yang pernah berkuasa di Lombok) dan Saksi Hidup Putri L.Srinata Hj. Lale Kuning. Setelah melalui perdebatan yang alot dan panjang dalam seminar hari jadi, akhirnya diputuskan oleh 15 anggota tim perumus yang dibentuk dalam seminar tanggal 15 Oktober 1945 sebagai hari lahir kabupaten Lombok Tengah.

Peran KNPI
Untuk mendapatkan legitimasi atau pengakuan dari DPRD Lombok Tengah ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tarik ulur kepentingan muncul di dalam perjalanan mendapatkan legitimasi hukum itu. Setelah ditetapkan tanggal 15 Oktober 1945 sebagai hari kelahiran Kabupaten Lombok Tengah, langkah selanjutnya adalah legitimasi secara hukum yaitu ditetapkan melalui sebuah
Peraturan daerah. Rancangan Perda (Ranperda) tentang Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah diajukan oleh Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Wiratmaja melalui Sekda Lombok Tengah, Drs. H. Lalu Supardan, M.M ke DPRD Lombok Tengah pada tahun 2009 namun pada saat itu DPRD belum dapat mengagendakan untuk dibahas. Menyikapi berlarut larutnya penetapan Ranperda Harijadi
Kabupaten Lombok Tengah oleh DPRD Lombok Tengah, pengurus dan anggota KNPI beberapa kali melakukan hearing publik ke DPRD Lombok Tengah, sampai akhirnya Bupati H. Moh. Suhaili FT seusai Peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2012, mengundang para Tim Perumus ke di Ruang Rapat Utama Kantor Bupati untuk membahas kelanjutan Ranperda tentang Hari Jadi tersebut apakah hasil seminar yang telah diajukan ke DPRD Lombok Tengah akan dibahas kembali atau tidak. Dalam pembahasan yang dipimpin oleh Sekda Lombok Tengah, Drs. H. Lalu Supardan, M.M itu mengambil keputusan bersama bahwa hasil seminar yang telah diajukan ke dewan dalam bentuk Ranperda tidak dibahas lagi sehingga Tim Perumus mendorong Pemda untuk berkoordinasi dengan dewan untuk pembahasan selanjutnya pada tahun 2012. Hal ini yang dilaporkan kepada Bupati. Setelah dilakukan pembahasan oleh Badan Legislasi DPRD Kabupaten Lombok Tengah selanjutnya dibahas secara intensif oleh Pansus Ranperda DPRD Kabupaten Lombok Tengah yang diketua oleh Drs. H. Karim Abdurrahim dengan Wakil Ketua Humaidi, S.T, melalui Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Lombok Tengah tanggal 22 Juni 2012, Ranperda Hari Jadi Kabupaten
Lombok Tengah tersebut kemudian ditetapkan menjadi Peraturan daerah Nomor 4 tahun 2012. Dengan demikian, secara resmi Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah ditetapkan tanggal 15 Oktober 1945. Oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah selalu diperingati setiap tahun. 

Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah ini merupakan momentum sejarah untuk memotivasi seluruh lapisan masyarakat dalam rangka mengisi pembangunan di Kabupaten Lombok Tengah. Hari Jadi Kabupaten Lombok Tengah adalah suatu momen bersejarah untuk meghargai dan mengenang jasa pendahulu, yang perlu untuk diketahui, diingat dan diperingati sebagai wahana menumbuhkan rasa memiliki, kebanggan serta semangat kesatuan dan persatuan warga masyarakat serta sebagai sarana evaluasi perkembangan daerah.

---
Sumber: Wikipedia + Sasambo News

                                                                                                                                          Komentar

                                                                                                                                          Postingan populer dari blog ini