Langsung ke konten utama

Google Doodle Hari Ini: Siapa itu Asep Sunandar Sunarya?

Fernayou Blog - Hai kawan FB...! Apakabss?
Maaf nih jarang banget ngepost... Ok, back to topic. As You know, hari ini Google memajang Google Doodle baru yang menarik, gambar WAYANG! Tapi, ini bukan hari Wayang, Google memajang Doodle wayang  untuk memperingati hari lahirnya Asep Sunandar Sunarya, atau yang biasa disebut Ki Asep Sunandar Sunarya. Nah yang jadi pertanyaan, siapa itu Asep Sunandar Sunarya?


Dengan meng-klik doodle Google tersebut, maka akan muncul siapa itu Asep Sunandar Sunarya. Jadi, Asep Sunandar Sunarya adalah seorang maestro wayang golek di Indonesia. Selaku dalang wayang golek, Asep Sunandar Sunarya konsisten pada bidang garapannya, teu incah balilahan.

Asep Sunandar Sunarya lahir di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 3 September 1955 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 31 Maret 2014 pada umur 51 tahun.  Ia begitu menyatu dengan dunia wayang golek yang Ia gelutinya sehingga penghargaan demi penghargaan, baik dari tingkat lokal, provinsi, nasional, bahkan manca negara Ia dapatkan.

Tanpa adanya seorang Asep Sunandar Sunarya mungkin Cepot tidak akan sepopuler sekarang ini. Berkat kreativitas dan inovasinya, Ia berhasil meningkatkan lagi derajat wayang golek yang dianggap seni kampungan oleh segelintir orang. Peningkatan itu dilakukan dengan menciptakan wayang Cepot yang bisa mangguk-mangguk, Buta muntah mie, Arjuna dengan alat panahnya, Bima dengan gadanya begitu pula dengan pakaian wayangnya yang terkesan mewah.

Materi dan ketenaran ia dapatkan dari hasil berjuang tanpa henti dengan menghadapi berbagai dinamika kehidupan yang sering kali tidak atau kurang menyenangkan. Sebelum suka datang, tentu duka menghampiri, bahkan seringkali suka dan duka menyatu dalam rentang panjang perjalanan seorang Asep.

Orang tidak banyak tahu bahwa perjalanan dalam profesinya sebagai dalang, demikian berliku. Tidak jarang, di awal kariernya Asep sering mendapatkan kritikan pedas dari berbagai kalangan, terutama dari sang ayah (Abah Sunarya).

Pada diri Asep mengalir darah seni dari Ayahnya. Diawali sejak usia 7 tahun ( kelas 1 SD) minat Asep terhadap wayang golek sudah mulai tumbuh. Selain karna faktor turunan juga memang pada zaman itu pagelaran seni Wayang Golek masih digandrungi oleh masyarakat. Juga, pada saat itu belum ada "saingan" dari jenis seni lainnya sebagaimana terjadi pada zaman sekarang. Bakat Sukana kecil ia perlihatkan dengan kegemarannya membuat wawayangan dari ranting-ranting pohon yang jatuh, tanah liat, dan daun singkong.

Suatu ketika saat Asep Sukana manggung di Luragung, ia mendalang siang hari (ngabeurangan) sedangkan pada malam harinya yang menjadi dalang adalah Abah Sunarya, maka saat itulah Abah Sunarya berujar:"Ngewa ngaran Sukana, ganti ku Sunandar!" Sejak saat itulah Asep Sukana berubah menjadi Asep Sunandar, sedangkan nama Sunarya merupakan nama Ayahnya yang kemudian digunakannya. Hal ini lazim terjadi di Masyarakat Sunda khususnya, dimana nama Ayah kerap digunakan dibelakang nama anaknya.

"Apalah artinya sebuah nama tanpa Karya" Asep Sunandar.
---
(Wikipedia)

Komentar

Postingan populer dari blog ini